Synopsis Makrifat Jawa Untuk Semua
(Kuasa Manusia, Manusia Kuasa dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram)*
Jawa dalam peta dunia hanyalah sebuah titik yang tak berarti. Tapi alam pikiran orang Jawa yang berkaitan dengan kosmos tak dapat diremehkan oleh dunia. Orang Jawa memandang makro kosmos sebagai alam semesta yang mengandung kekuatan metafisis dan misterius dimana pusatnya adalah Tuhan, sedangkan mikro kosmos disikapi sebagai kehidupan di dunia nyata dan manusia menjadi titik sentralnya. Tujuan hidup orang Jawa adalah menyelaraskan antara pandangan dan sikapnya itu, yaitu memelihara harmonitas kehidupan dengan memayu hayuning bawana. Orang-orang Jawa sangat terbuka terhadap keyakinan dan semua agama termasuk Islam, tetapi mereka akan menolak keras ketika harus “di-Arabkan”. Sebagaimana mereka telah menolak mati-matian ketika hendak “di-Belandakan” atau “di-Inggriskan”. Tujuan hidup dan psikologi orang Jawa yang semacam itu, sempat dimanfaatkan oleh penjajah dari Jepang yang mengaku sebagai Saudara Tua untuk mendapatkan simpati.
Orang-orang Jawa umumnya beranggapan bahwa pegangan hidup mereka haruslah “agama” Jawa dan tidak yang lainnya, termasuk juga “agama” Arab. “Agama” Jawa bukanlah sebuah agama dalam pengertian formal, persis “agama” Arab yang tidak pernah mereka identikkan dengan Islam. Karenanya meskipun telah memeluk agama tertentu, orang Jawa tulen tidak akan pernah meninggalkan “agama” Jawanya. Sebab “agama” Jawa pada hakikatnya memang tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan spiritual apa pun. Setelah mendalami ajaran-ajaran Sang “Matahari Jawa” dari seorang “Bangkokan” Kaweruh Jiwa yang tidak pernah berkenan saya perlakukan sebagai Guru, maka kami pun berupaya untuk “mengkilaukan”—tanpa tanda petik akan terbaca meng-kilo-kan (Jw: ngilonke) yang berkonotasi menjual atau membarter—mutiara yang telah tertutup debu tebal atau bahkan terpendam cukup dalam sehingga telah diinjak-injak oleh banyak orang.
Benar, Sang ‘Matahari Jawa’ yang saya maksud adalah Ki Ageng Suryomentaram. Sang Pencerah dari Mataram yang telah membumikan ajaran adi luhung leluhurnya dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapa saja. Tidak hanya ajaran leluhur Tanah Jawa yang beliau sederhanakan, Ki Ageng juga dengan tegas memangkas berbagai diskursus filsafat abstrak tentang awal mula kejadian alam semesta dan bagaimana nanti akan berakhirnya. Ya, dalam ajarannya tentang ilmu pengetahuan beliau menegaskan:
“Tahu itu tanpa batas, karena sampai pada titik tidak tahu, toh kita masih bisa tahu juga. Yaitu tahu bahwa kita tidak tahu. Tidak tahu itu pada akhirnya akan timbul saat kita meneliti satu persatu barang atau satu persatu kejadian. Umpama meneliti satu persatu barang; betapa barang yang terkecil pun tentu masih dapat dibagi, sedang bagian terkecil itu juga masih bisa dibagi lagi. Demikian pula ketika meneliti barang yang terbesar; pun tentu masih dapat diduakalikan, sedang duakaliannya juga masih bisa diduakalikan lagi. Jadi, dalam meneliti barang yang benar-benar terkecil dan terbesar, kita pasti akan bermuara pada titik tidak tahu. Demikian pula saat meneliti suatu peristiwa, ketika bumi dan langit belum ada misalnya, apakah yang terjadi? Dan sebelum kejadian itu, apa pula yang telah terjadi? Demikian seterusnya, hingga pada akhirnya kita pasti tidak tahu. Begitu juga dalam meneliti kejadian setelah bumi dan langit lenyap misalnya, apakah yang akan terjadi? Dan setelah kejadian itu, apa lagi yang akan terjadi? Demikian seterusnya, dan pada akhirnya kita pun pasti tidak tahu. Jadi untuk mengetahui kejadian yang semula dan terakhir itu, sesungguhnya kita tidak akan pernah tahu. Tetapi jika ketidaktahuan itu kita paksakan, lantas kita pun menjadi mengira tahu, dan mengira tahu hakikatnya adalah tidak tahu. Jadi, mengira tahu sesungguhnya adalah ketidaktahuan yang dipaksakan; hanya untuk memenuhi pengharapan untuk dapat mengetahui segala hal sehingga mencari-cari tamsil, tanda-tanda, persamaan-persamaan, dan menjadikannya sebagai ilmu keyakinan jadi-jadian.”
*Insya Allah buku ini akan diterbitkan oleh Serambi sebelum bulan Ramadhan tahun ini. Mohon doa restunya, njih…
Salam…